PINTU ANGIN, SOLOK | Di jalur yang sejuk menghadap perbukitan Pintu Angin Arosuka, aroma arang dan ikan segar mulai menyapa pengendara yang melintas. Sabtu pagi, 4 April 2026, menjadi penanda lahirnya titik singgah kuliner baru ketika Pondok Ikan Bakar Aru Lubeg resmi membuka cabang di kawasan tersebut.

Rumah makan yang selama ini dikenal luas lewat dapur utamanya di Lubeg itu kini memperluas jangkauan. Cabang baru ini berdiri tak jauh dari kawasan perkantoran pemerintahan Arosuka, membuatnya mudah dijangkau warga maupun tamu luar daerah yang datang ke Solok.

Sejak pagi, undangan dan warga yang penasaran mulai berdatangan. Papan nama besar bertuliskan identitas rumah makan terpampang di kaca depan, sementara spanduk selamat datang membentang di bagian atas bangunan. Suasana sederhana, hangat, dan bersahabat langsung terasa begitu kaki melangkah masuk.

Owner H. Alfian dan Hj. Eti tampak menyambut tamu satu per satu. Tidak ada kemegahan berlebihan. Yang ditonjolkan justru kehangatan layanan dan keyakinan bahwa rasa adalah alasan orang akan kembali.

“Tempatnya nyaman, pemandangannya bagus, parkir luas. Tapi yang paling penting tetap rasanya. Kalau rasa sama seperti di Lubeg, ini bakal ramai,” ujar Hendri, salah satu tamu yang hadir pagi itu.

Di sudut lain, Andri memperhatikan proses pembakaran ikan di tungku terbuka. Asap tipis mengepul, bumbu meresap, dan aroma khas ikan bakar mulai memenuhi ruangan. “Aroma begini yang bikin orang lapar sebelum duduk. Ini ciri khas Aru Lubeg yang saya ingat,” katanya sambil tersenyum.

Bagi Bustaman, kehadiran cabang ini bukan sekadar soal makan. “Ini bagus untuk kawasan Arosuka. Orang yang datang ke kantor-kantor di sini sekarang punya pilihan tempat makan yang enak dan representatif,” tuturnya.

Sementara itu Pito melihat dari sisi kenyamanan. Meja tertata rapi, ruang cukup lapang, dan sirkulasi udara baik membuat rumah makan ini terasa pas untuk keluarga maupun rombongan. “Jarang ada rumah makan ikan bakar di lokasi setenang ini,” ucapnya.

Di meja belakang, Dewi sudah lebih dulu mencicipi hidangan yang tersaji. Sambal, lalap, dan ikan bakar hangat tersusun di hadapannya. “Rasanya persis seperti yang di Lubeg. Tidak berubah. Ini yang penting,” katanya.

Hal senada disampaikan Nengsih. “Kadang kalau buka cabang, rasa suka beda. Tapi ini sama. Berarti memang dijaga betul dapurnya,” ujarnya.

Cabang ini tetap membawa ciri khas utama: ikan segar, bumbu racikan sendiri, dan teknik pembakaran tradisional yang membuat daging ikan matang merata tanpa kehilangan kelembutan. Tidak banyak variasi yang diubah. Identitas rasa tetap dipertahankan.

Letaknya yang berada di jalur strategis Pintu Angin membuat rumah makan ini mudah terlihat oleh pengendara. Kombinasi pemandangan alam, udara sejuk, dan aroma dapur menjadi daya tarik alami yang sulit diabaikan.

Bagi warga Solok dan sekitarnya, kehadiran cabang ini seperti memindahkan sebagian kenangan rasa dari Lubeg ke Arosuka. Tidak perlu lagi menempuh jarak jauh untuk menikmati menu yang sama.

H. Alfian dan Hj. Eti tampaknya paham benar bahwa yang dicari pelanggan bukan sekadar tempat baru, melainkan pengalaman rasa yang konsisten. Itulah yang mereka bawa ke cabang Pintu Angin ini.

Siang menjelang, kursi-kursi mulai terisi. Obrolan mengalir di antara pengunjung yang datang silih berganti. Sebagian karena undangan, sebagian lagi karena penasaran melihat rumah makan baru yang ramai.

Dan dari dapur, arang terus menyala, ikan terus dibakar, menandai bahwa cabang baru Pondok Ikan Bakar Aru Lubeg di Pintu Angin Arosuka bukan sekadar pembukaan, melainkan awal dari rutinitas baru bagi pecinta ikan bakar di Solok.

Bustaman | Wyndoee