Arosuka | Akhir Desember 2025 menjadi saksi bagaimana kepedulian tumbuh dari keikhlasan, lalu menjelma menjadi harapan bagi masyarakat yang tengah bangkit dari bencana. Di tengah upaya pemulihan pascabanjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Barat, Lembaga Zakat Nasional Lembaga Manajemen Infaq (LMI) hadir membawa amanah kemanusiaan dari para donaturnya.
Perjalanan LMI ke Ranah Minang bukan sekadar agenda seremonial. Di balik kunjungan itu, tersimpan niat tulus untuk memastikan bahwa bantuan benar-benar sampai dan bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan. Amanah tersebut berasal dari para donatur LMI, salah satunya Generasi Rabbani, yang menitipkan bantuan berupa alat-alat kesehatan guna mendukung fasilitas kesehatan pascabencana.
Pada Senin, 29 Desember 2025, rombongan LMI disambut hangat oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Suasana pertemuan berlangsung penuh keakraban, mencerminkan semangat kolaborasi yang kuat antara lembaga filantropi dan pemerintah daerah. Di tengah perbincangan, tergambar kesamaan pandangan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan kerja bersama, tidak bisa ditopang oleh satu pihak semata.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, yang akrab disapa Buya Mahyeldi, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya atas kepedulian masyarakat melalui LMI. Menurutnya, gelombang solidaritas yang terus mengalir menjadi kekuatan besar bagi warga terdampak untuk bangkit kembali dari keterpurukan.
Gotong royong, kata Gubernur, adalah nilai yang telah lama mengakar di Sumatera Barat. Ketika bencana datang, nilai itu kembali hidup melalui uluran tangan berbagai pihak, termasuk lembaga zakat dan para donatur yang tidak pernah berhenti berbagi. Harapannya, dengan dukungan bersama, kondisi masyarakat dapat segera pulih dan layanan dasar kembali berjalan optimal.
Momen penting pun terjadi ketika Direktur Program LMI, Yanuari Dwi Prianto, secara simbolis menyerahkan bantuan alat kesehatan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat fasilitas kesehatan, terutama di daerah yang terdampak banjir dan longsor, agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, dr. Aklima, menyambut baik kolaborasi ini. Ia menilai sinergi antara pemerintah dan lembaga filantropi seperti LMI sangat strategis, khususnya dalam kondisi darurat dan pemulihan pascabencana. Bantuan alat kesehatan dinilai akan memberikan dampak langsung bagi peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat.
Namun perjalanan kemanusiaan LMI tidak berhenti di tingkat provinsi. Keesokan harinya, Selasa 30 Desember 2025, langkah LMI berlanjut ke Kabupaten Solok. Di Arosuka, rombongan LMI bersilaturahmi dengan Wakil Bupati Solok, H. Chandra, S.H.I, sebagai bagian dari penguatan koordinasi dan komitmen bersama dalam penanganan dampak bencana.
Kehadiran tim LMI didampingi Ketua Al-Izzah Charity Maspardi, perwakilan Yayasan Sarbainah Sukarami Masriwal, S.AP, Rudi Hartono, S.Ag, serta tokoh masyarakat dari Junjung Sirih Muara Pingai. Pertemuan berlangsung hangat, sarat dengan diskusi tentang kebutuhan masyarakat dan langkah konkret yang bisa dilakukan secara bersama-sama.
Wakil Bupati Solok menyampaikan apresiasi atas niat baik dan kepedulian LMI yang bersedia turun langsung dan berkontribusi dalam penanganan dampak bencana longsor dan banjir di wilayahnya. Menurutnya, kehadiran lembaga zakat dan unsur masyarakat menjadi penguat moril sekaligus solusi nyata bagi warga yang terdampak.
Ia berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada satu momentum saja, melainkan berlanjut dalam berbagai program pemulihan dan pemberdayaan masyarakat ke depan. Sinergi antara pemerintah, lembaga zakat, dan tokoh masyarakat dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan daerah terhadap bencana.
Sebagai lembaga zakat dan infak nasional yang berpusat di Surabaya, Jawa Timur, LMI saat ini telah hadir di 15 provinsi di Indonesia. Fokus LMI tidak hanya pada pengelolaan zakat dan infak, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat dan program sosial keumatan yang berkelanjutan.
Jejak langkah LMI di Sumatera Barat kali ini menjadi potret kecil dari semangat besar filantropi Islam di Indonesia. Dari amanah donatur, bantuan bergerak melintasi jarak dan wilayah, lalu bermuara pada harapan baru bagi masyarakat yang tengah berjuang memulihkan kehidupan mereka.
Di tengah luka akibat bencana, kepedulian menjadi penawar. Dan melalui kolaborasi seperti inilah, harapan untuk bangkit kembali perlahan namun pasti menemukan jalannya.
Masriwal S.AP

0 Komentar